24 December 2007

Kembalikan Natalku

Oleh: BS Mardiatmadja
Rohaniwan, Dosen STF Drayarkara

Apa yang istimewa pada Natal sebenarnya? Pohon Natal tidak penting karena di gurun pun kita seharusnya dapat merayakan Natal tanpa sepotong pohon Natal. Salju yang harus tersedia demi nyanyian White Christmas juga tidak mutlak, karena di Argentina atau Madagaskar atau New Zealand natalan pakai salju merusak seluruh konteks setempat yang sedang musim panas.

Gua kandang menjadi hiasan aneh untuk suatu kompleks yang berisi anak-anak kecil, yang belum pernah melihat kandang lembu, selain di Kebun Binatang; padahal Kebun Binatang sama sekali bukan latar belakang tepat untuk menggambarkan susah payahnya Maria dan Yoseph mencari penginapan. Gembala dengan kambingnya memberi gambaran asing bagi anak-anak kota, yang juga ingin menemukan makna Natal sebenarnya.

Sewaktu saya menyarankan mengubah nyanyian Natal dengan nyanyian setempat, ada yang protes: itu sudah menjadi milik umat semesta sehingga tidak perlu diganti. Tentu saja kita harus berterimakasih kepada Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber yang di tahun 1818 menggubahnya. Tetapi kita lihat kata-katanya saja "Stille Nacht, heilige Nacht! Alles schläft, einsam wacht nur das traute, heilige Paar. Holder Knab im lockigen Haar: Schlafe in himmlischer Ruh!" (sebaiknya tak diterjemahkan karena terjemahannya sekarang sudah beraneka macam; hampir semuanya memperhalus maksud semulanya). Kata dan melodi yang melantunkan keheningan. Sementara itu, di luar gedung ada sekelompok polisi/tentara menjaga agar ibadat kita tidak dikacau orang yang tidak suka. Tentu saja kita berterimakasih kepada pihak keamanan, yang secara ekstra, pasti berusaha keras menjaga semua ibadat Natal tahun ini.

Merayakan Kepalsuan?

Tetapi keheningan macam apa yang sebenarnya kita madahkan? Keheningan selama beberapa jam ini-kah? Lalu kita hiruk pikuk lagi? Kalau demikian keheningan semu dan keheningan ritual saja. Lalu kita merayakan apa? Kita merayakan kepalsuan? Dan kepalsuan itu tidak hanya berkaitan dengan ritus Kristiani, melainkan kepalsuan politis juga, yang penuh dengan topeng serta rekayasa sedemikian sehingga kosmetik tebal menutupi kebusukan (=corruptio) tak terperi. Bahkan sidang sebesar Sidang ekologi Bali tidak dapat menghilangkan tippex yang menutupi kejahatan ekologis di banyak sekali kota besar dunia: pertanda jurang besar menganga untuk menerkam miliaran orang di sekitar kita.

Sebenarnya, Dia yang datang itu dan sekarang maunya kita rayakan itu, bermaksud menjembatani segala kesenjangan itu, menutup jurang-jurang komunikasi dan menyambung relasi antara surga dan dunia. Tetapi ritus beberapa jam atau pohon Natal beberapa meter atau rantai hiasan warna warni itu malah menyebabkan kita silau dan tidak dapat melihat kebenaran di dunia ini: ya Sang Kebenaran kita benamkan dalam tumpukan kembang kertas. Kerap kali kita marah kalau ada orang muda atau "mulut lancang" berseru, betapa Gereja atau Gereja-gereja kita atau masyarakat kita telah mengecat kebenaran sehingga tertutup dengan hiasan-hiasan yang manis.

Sewaktu Dia datang, Herodes, raja lelucon itu mencoba menghibur diri (=kita semua) dengan argumen penundaan bakti guna menantikan bukti ilmiah mengenai kehadiran Sang Kebenaran serta berlindung di balik istana analisis: tetapi menolak ikut menyembah Tuhan. Sewaktu Dia datang, para cerdik pandai di Ibukota (=kita semua) sibuk mencari dalam lembaran-lembaran sejarah, membuka file-file masa lampau dan mempresentasikannya secara publik untuk menghindar dari keharusan menghormati Tuhan yang menjadi realita masa kini. Sewaktu Dia mendekat, hanya orang-orang melarat yang tetap di darat untuk sempat menjabat hangat.

Kelak Anak Kecil ini akan datang ke Bait Allah untuk membabat habis orang-orang yang memalsukan kepentingan iman dengan perdagangan di tempat suci dan perdagangan barang suci serta perdagangan dengan alasan suci. Apa yang akan Dia lakukan, seandainya sekarang Dia hadir di Ibukota ini dan melihat, bagaimana kita menjual Dia di gedung mewah dan dengan makanan serba nikmat serta mengenakan pakaian serba "wah"? Apa yang akan Dia lakukan terhadap iklan-iklan untuk menyeret Anak Kecil itu ke gemerlap lampu kita? Puaskah Dia akan dalih, bahwa setelah mengalami ditendang-tendang ke sana kemari, umat kita pantas juga merasakan kebersamaan yang manis? Relakah Dia membiarkan Si Kecil ditenteng-tenteng bersama dengan hadiah-hadiah yang merupakan alat cuci kedekilan moral kita?

Jangan-jangan itu semua karena kita segan mencari di balik Pohon Natal atau Gua Natal tradisional; enggan menyingkap kapas bak salju yang menutupi hati kita; tak rela membuka kosmetik yang mengingatkan kita akan wajah kusut kemanusiaan kita. Padahal Dia kita rayakan justru untuk masuk ke dalam kemanusiaan kita yang kusut. Marilah kita berani mengakui kekusutan kita. Marilah kita kembali pada Natal yang asli. Kembalikan Natal kita!




Merayakan Rahmat

Oleh: Yonky Karman
Rohaniwan, Dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Rahmat menyapa lewat kelahiran Yesus, menubuh dalam bayi di palungan, kemudian bertambah besar dan bijaksana. Verbum caro factum est. Dan firman telah menjadi manusia. Rahmat Allah ada pada Yesus. Kata dan laku-Nya menguatkan yang lemah, membebaskan yang terimpit beban kehidupan, senasib dengan yang tersingkir. Rahmat yang menyelamatkan manusia sudah nyata, dengan konsekuensi moralnya (Tit 2:11-12).

Perayaan Natal seyogianya tidak terjebak dalam paradigma menggereja. Semestinya Yesus di pusat perayaan, bukan perayaan spektakuler atau karisma pengkhotbah. Natal tanpa Yesus kehilangan esensinya, hanya peristiwa kultural, rutinitas tanpa visi, tiada terobosan untuk memperbaiki kerusakan moral, tiada kekuatan untuk meruangkan kebersamaan. Kekitaan terperangkap dalam kekamian. Rahmat dilupakan.


Amnesia kolektif

Rahmat mestinya bagi segenap alam. Namun, kita terpaku pada alam. Kita berupaya menguasai alam dan mengeksploitasinya. Alam menjadi obyek keserakahan sekaligus ketidakpedulian. Pemanfaatannya tidak mendatangkan rasa syukur di hati. Setelah beberapa dekade Indonesia merdeka, wajah kemiskinan sebagian besar rakyat belum berubah.

Dalam Pembukaan UUD 1945 tertuang pengakuan iman, "Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa… rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya". Kemerdekaan adalah rahmat. Namun, kita lebih merayakan kemerdekaan daripada rahmat. Yang besar merasa bebas merusak dan mengintimidasi yang kecil; juga merasa bebas merampas hak hidup yang kecil.

Kemajemukan tidak dirayakan sebagai rahmat. Pemerintah membiarkan kelompok dalam masyarakat mengancam dan merugikan yang lain hanya karena perbedaan keyakinan. Alih-alih hukum ditegakkan untuk melindungi yang lemah, massa dibiarkan menegakkan hukum jalanan. Pemerintah Negara Indonesia Merdeka belum melindungi segenap bangsa sebagaimana amanat konstitusi.

Melalui perjuangan diplomasi yang alot, Indonesia diakui sebagai sebuah negara kepulauan. Namun, banyak pulau dibiarkan takbertuan, Ada yang dijual kepada swasta. Ada daerah wisata dikelola asing, tetapi di situ rupiah tidak laku. Ada daerah pariwisata yang hanya dapat dimasuki wisatawan asing. Pemerintahan belum melindungi seluruh tumpah darah Indonesia, sebagai amanat konstitusi.

Kualitas sumber daya manusia Indonesia menurun. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia yang meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Indonesia menempati peringkat ketujuh di Asia Tenggara, sedangkan Vietnam yang baru membangun belakangan kini di peringkat kelima. Pemerintah belum memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat konstitusi.

Rahmat Allah mestinya mendidik kita untuk hidup dengan bijaksana, adil, dan beribadah. Rahmat tidak hanya memampukan kita berbuat baik, tetapi membuat kita harus berbuat baik sehingga kita dikenal sebagai umat yang rajin berbuat baik. Hingga wafat-Nya, Yesus dengan setia menghadirkan agama di ruang publik, membumikan kemanusiaan, melayani, dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Natal merayakan rahmat. Konsekuensinya, kita bertanggung jawab mengurangi penderitaan sesama, mengangkat harkat hidup mereka yang dipinggirkan ketidakadilan, berbagi nikmat dengan sesama yang kurang beruntung, memberi asa kepada yang kehilangan harapan. Seharusnya kita beramai-ramai membangun rumah kesalehan sosial daripada mempersoalkan pembangunan dan bangunan rumah ibadah.

Dalam merayakan rahmat, kita tak lagi mempersoalkan mengapa Tuhan tidak menciptakan dunia yang lebih baik dari yang ini. Yang lebih hakiki adalah bagaimana hidup di dunia terbaik dari yang mungkin ada. Dunia harus menjadi sedikit lebih baik lewat kehadiran dan karya kita. Yesus tidak meminta umat diangkat dari dunia, tetapi mendoakan mereka agar dilindungi dari yang jahat dan dikuduskan dalam kebenaran.

Solidaritas kebangsaan

Dalam peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional di Medan (19/12), Presiden menegaskan agar kesetiakawanan sosial tidak sekadar wacana. Nilai luhur bangsa itu harus diwujudkan dalam perilaku sosial guna menciptakan Indonesia yang aman, damai, adil, dan demokratis.

Sejak tsunami, bencana demi bencana melanda Indonesia. Di negeri bencana, alam meradang. Ada bencana murni karena alam. Namun, yang memprihatinkan adalah bencana akibat kelalaian manusia dan pemerintah. Ancaman pemanasan global menimbulkan banjir, badai, angin puting beliung, dan cuaca ekstrem. Banjir pasang laut menjebol tanggul, merusak tambak, dan merendam kawasan nelayan.

Karena kemampuan mengatasi dampak perubahan iklim amat minim, negara miskin lebih menjadi korban fenomena perubahan iklim dengan kerugian ekonomi miliaran dollar. Sembilan dari sepuluh bencana alam terbesar akibat iklim tahun 2007 terjadi di negara miskin dengan dampak lebih buruk daripada yang terjadi di negara maju.

Asia adalah kawasan paling menderita. Negeri paling berisiko terhadap perubahan iklim selama 2006 adalah Filipina, Korea Utara, dan Indonesia. Di Indonesia terjadi 21 bencana alam. Total korban jiwa 1.297 orang, naik dari tahun sebelumnya. Jika tahun 1987-2006 kerugian Indonesia akibat bencana iklim rata-rata 0,27 persen dari produk domestik bruto nasional (keenam terbesar di dunia), tahun 2006 naik menjadi 0,31 persen.

Sebagai negeri yang ketahanan terhadap bencananya lemah, kesetiakawanan warga ditantang. Yang paling menderita akibat perubahan iklim yang tak menentu adalah petani. Jumlah petani gurem (miskin) kita terus meningkat. Dan, 60 persen rakyat miskin kita adalah petani.

Bencana tidak hanya menghancurkan harta benda, tetapi juga membuat rakyat kecil terperosok dalam kubangan kemiskinan. Mereka kehilangan hak-hak ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Perempuan dan anak-anak lebih menderita lagi. Anak-anak terpaksa putus sekolah, sakit-sakitan hidup di pengungsian, tanpa masa depan. Di depan rahmat Allah, kita semua harus tafakur. Saatnya menguatkan solidaritas kebangsaan melampaui solidaritas keumatan dan kesukuan.


Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/22/opini/4095349.htm


16 December 2007

Pembubaran Panitia Natal 2007

Mungkin Anda agak bingung dengan foto-foto di sini yang agaknya tidak pas dengan pembubaran panitia Natal 2007. Tapi memang begitulah kami ini, sampai-sampai singkatan PMK bisa diartikan Poto-poto, Makan-makan, dan Kumpul-kumpul hehe ^^,

Rapat diadakan hari Sabtu, jam 18.00 (tapi mulainya ngaret 30 menitan, hiks). Waktu itu hujan cukup deras dan banyak laron masuk ruangan. Foto-foto ini diambil bersama kue ucapan terima kasih sepesial untuk panitia dari seorang pria misterius yang ramah, baik hati, ceria, dan tidak sombong dengan nama samaran Bong Fuk Lai (ada yg tahu siapakah dia?). Tentu kami foto-fotonya sesudah rapat evaluasi selesai. Foto yang gelap dapet ide dari dimatikannya lampu untuk mengurangi laron agar tidak masuk ruang. Trus di antara mereka ada beberapa 'oknum' yang belum mandi kerna sejak siang ikut mengantar paket-paket parcel Natal. Tapi karena anak MC manis-manis n cute, maka Anda pasti tidak bisa menemukan siapa-siapa yang blon mandi. Sayang tidak semua panitia dapat hadir karena berbagai alasan tertentu. Namun rapat pembubaran panitia dapat berjalan dengan baik. Setiap orang yang datang menceritakan evaluasi pribadi dan evaluasi pelayanan tiap komisi. Hampir semua kelebihan dan kekurangan dibicarakan: pembagian undangan, kaitan dengan Romantic Dinner dan Fun Sandwich, pencarian dana, persiapan-persiapan dan latihan-latihan, jam mulai natalan yang molor, adanya teman baru yang merasa terasing (terlantar), kurangnya berdoa untuk teman-teman yang diundang, gladi kotor dan gladi bersih, pembicara yang melebihi waktu yang disediakan, nasi bungkusnya, banyaknya teman-teman yang maju memberikan respon, drama yang menarik perhatian, pengeluaran-pengeluaran, bla..bla..bla.. dst, dst...


Dan kami semua sepakat bahwa itu semua sesungguhnya baru satu titik awal. Yang juauh lebih penting adalah bagaimana tindakan lanjutnya? Semua hiruk pikuk tersebut hanyalah sarana, alat, atau acara untuk mengarahkan kita semua pada hidup yang sepenuhnya mencari dan memuliakan Allah. Apakah dalam diri setiap panitia juga terus terpaku janji hati untuk "no turning back" ke hidup yang lama? Bagaimana panitia dan pengurus dapat (saling) menjaga dan merawat baik-baik ke-61 orang yang hadir? Ini semua masih menjadi PR besar kita semua.
Doakan kami, agar memasuki tahun baru yang tinggal beberapa hari lagi, PMK Melisia Christi kian menjadi tempat di mana TUHAN 100% dirajakan, ditinggikan, dihormati, dan diceritakan.

08 December 2007

Liputan NO TURNING BACK

Praise be to GOD!!! Setelah hampir dua bulan mempersiapkan Natal, akhirnya peringatan Natal PMK Melisia Christi dapat berjalan dengan sangat baik. Berikut laporannya singkatnya.



Ini dia para penerima tamunya: Mira, Novita D dan Fitri. Trus Ajung di bagian ME (mechanical & electronic cieee....). Sebenarnya masih banyak teman-teman yang bekerja dibalik layar, yaitu mereka yang mempersiapkan dekorasi, yang bersih-bersih ruangan, yang antar jemput, yang bagi-bagi undangan, yang ngamen, yang jualan pastri, yang memberikan usulan, yang memberikan dana, yang mendoakan, dan seterusnya. Thank you all.



Ini adalah para musikus, pemimpin pujian dan singers. Aldo dan Yeremia di keyboard, Andre di bass, dan Leo di ketipung & tamborin. Thank so much buat Andre untuk usaha kerasnya memberikan yang terbaik di tengah beban penelitian yang menghimpit. Thank u buat Yeremia untuk pelayanan dan pinjaman keyboardnya. Thank u buat Leo untuk iringan ketipungnya. Thank u juga buat Aldo untuk iringannya. Thank u buat Vera untuk usaha kerasnya menjadi pemimpin pujian di tengah pergumulan kesehatan ibunya. Thank u juga untuk Andry dan Delfy :)



Ini suasana pujian dan penyembahannya.



Yang ini pohon doanya. Jumlah "daun doa" ada lebih dari 300 nama. Dan total yang datang ada 64 orang. Thanks untuk keterbebanan teman-teman untuk mengundang rekan-rekan yang lain. Tentu ada sukacita tersendiri ketika melihat mereka datang dan maju ke depan meresponi tantangan. Next time kita semua musti lebih bersemangat mengundang teman baru dan lama. Bersemangat!!!



Ini drama Natalnya. Di sini dikisahkan pergulatan batin Tora (diperankan oleh Budi, baju merah garis putih) ketika harus memilih antara mengasihi pacar atau TUHAN.



Pembicaranya Ev. Johan Setiawan. Bersyukur sekali untuk pelayanan firman (KKR) yang beliau bawakan. Bersyukur melalui beliau TUHAN mendapat banyak tempat (komitmen baru) di hati banyak anggota/pengurus yang datang. Bersyukur juga untuk pinjaman LCD proyektornya :)



Ini video saat tantangan berlangsung. Hampir semua yang datang memberikan respon. Ada 3 tantangan yang diresponi: (1) menerima KRISTUS sebagai Tuhan dan Juruselamat. (2) Berjanji hidup sepenuhnya untuk TUHAN. (3) Menjadi orang yang bersungguh hati mencari dan memuliakan TUHAN dalam segenap aspek hidup.



Dan yang tidak mungkin terlewatkan: foto-foto ;)



Demikianlah Natal PMK Melisia Christi. Oya, kami juga berterima kasih untuk GBI Shalom Yogyakarta untuk pinjaman tikarnya.

Doakan follow up yang masih kami gumulkan. Doakan agar TUHAN menyatakan pimpinan-Nya agar semua yang sudah dikerjakan tidak hilang begitu saja, tetapi sungguh-sungguh menjadi titik balik dari hidup yang kadang-kadang memuliakan TUHAN menjadi hidup yang senantiasa memuliakan TUHAN.

03 December 2007

!!! NO TURNING BACK !!!


Doakan seluruh seluruh persiapan (pembicara dan panitia) untuk acara ini. Doakan kehadiran rekan-rekan yang diundang (ada 290 lebih nama yang diundang!). Doakan juga agar melalui poster-poster yang ditempel ada lebih banyak lagi orang yang datang. Doakan kehadiran TUHAN dalam acara ini untuk membaharui hati dan hidup setiap orang yang terlibat dan datang.

Andrie dan Irma

Segenap keluarga besar PMK Melisia Christi mengucapkan selamat dan berbahagia untuk


Andrie Setiyawan Kusdianto, S.E.
dan
Irma Kulanta, S.T.


Kiranya kasih dan kemuliaan TUHAN kian nyata kalian alami dan pancarkan.


Pemberkatan nikah:
Minggu, 2 Desember 2007, pukul 10.00 WIB
di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela
Kumetiran - Yogyakarta


Resepsi pernikahan:
Minggu, 2 Desember 2007, pukul 12.30 WIB
di Nusantara Room - Pacific Restaurant
Jl. Magelang Km. 4,5 - Yogyakarta

02 December 2007

FUN SANDWICH =)

Thank GOD untuk acara FUN SANDWICH yang dapat berjalan dengan baik, penuh sukacita, dan menyenangkan. Thank u untuk dukungan doanya. Thank u dan salut untuk persiapan, kerja sama dan pelaksanaan panitia dan rekan-rekan yang terlibat. Thank u kesediaan teman-teman mengikuti acara ini. Kiranya kasih TUHAN kian nyata kita rasakan dan bagikan.


Yang jadi usher Nono dan Novita lengkap dengan senyum manis mereka :"> Trus yang jadi MC Agus dan Delfi. Khusus untuk Delfi, "selamat ya untuk penampilan perdananya ya... jadi ketagihan ngemsi terus ya? hehe..." Yang mengiringi pujian adalah Aldo, trus singers nya Irfa dan Vera.


Permainan pertama adalah kata bersambung uh..uh... ah..ah.. uh..uh.. ah..ah.. Kata "Sekali" dan "Christi" muncul mulu... mungkin alam bawah sadar kita semua mengamini "Christi sekali" (Kristus banget) ato "Sekali Christi tetap Christi" (sekali Kristus tetap Kristus!). Trus dilanjutkan main metamorfosis: aseli, seeruuuuuu bianggeeeeeeeeett... semua pada berkeriapan kian kemari. Trus ada lomba mendirikan menara sedotan yang menegangkan sekaligus menggelikan. Trus ada persembahan pujian dari teman-teman baru (dari kiri ke kanan: Yuda, Nono, Leni, Novita Deli, Sandi, dan gitaris Andre yang lagi invisble mode hehe).



Tidak lupa menyaksikan kebaikan TUHAN. Mulai dari Vera yang senang terkekeh-kekeh, trus Nono yang tetap peace walo grogi. Trus ada surprise ulang tahunan utk David (alumni) yang hut pas hari itu, dan kesaksian dari Mega (alumni). Untuk David n Mega, "Thank you ya nyempetin datang ke acara ini."



Dan yang tidak kalah seru adalah permainan fungky mummy. Bayangkan ada 8 mummy unjuk fungky di sini!!!



Dan yang pasti: pesta sandwich!!! Bisakah kalian menemukan 10 perbedaan gaya dan sepak terjang cara makan dua kelompok di atas?



Trus yang tidak mungkin ketinggalan, selalu, kudu, en musti ada: foto-foto!








_________________________________
Acara: FUN SANDWICH
Lokasi: Home Training PMK Melisia Christi
Waktu: Sabtu, 1 Desember 2007

29 November 2007

Romantic Dinner

Di mana-mana biasanya MC yang ngerjain sana-sini. Tapi khusus di romantic dinner ini, MCnya (Agus) justru dikerjain hehehe... Thx u ya Gus untuk pelayanan ngemsi nya. Meski 'veteran' tetap jadi berkat n keep in touch with us.

Berbagi pengalaman mengesankan. Pada kesempatan istimewa ini juga ada beberapa teman yang berbagi pengalaman dan kesan selama di PMK Melisia Christi. Atas: Leni dan Aheng. Bawah Sandy dan Nia.


Yang ini adalah lomba tebak wajah. Tak ada LCD, laptop pun jadi. Jadi seru, satu laptop rame-rame. Thx u untuk Ajung yang udah nyiapin gambar dan foto-foto nya.


Dan yang ini puncak acaranya: romantic dinner. Beratapkan langit, bulan, bintang dan awan. Menunya nasi kuning dan teh manis. Dan yang pasti, penuh canda dan cerita-cerita lucu, termasuk kisah Agus ngesot dengan ceker ayamnya (silakan hubungi ybs utk cerita detilnya).