Showing posts with label 11-MCwindow. Show all posts
Showing posts with label 11-MCwindow. Show all posts

24 July 2008

Yuk ikutan "MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI"

Dear friends,
Ini ada booklet terbitan KPK untuk mendorong kita semua terlibat aktif memberantas praktik korupsi:



Untuk mendownload gratis, klik di sini:

http://www.kpk.go.id/modules/wmpdownloads/visit.php?cid=10&lid=19

Yukss... jadikan negeri tercinta kita ini lebih "bersih" dari praktik korupsi.

30 May 2008

Selayang Pandang Kristen Koptik Dalam Novel dan Film Ayat-Ayat Cinta


Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA.

1. Catatan Pengantar

Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Brahmantyo ini adalah menarik untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini [1] dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton karena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya "sekedar ingin tahu", karena penyambutan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik novel dan film ini? Beberapa orang berkomentar, "ini iklan poligami", "referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo", tetapi ada pula yang serius mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja pribumi di Mesir, sebagai Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan "secara sambil lari" dalam film ini.


2. Sekilas Film "Ayat-ayat Cinta"

Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang tidak membaca novel atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo , ini:

Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame Nafed [2] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari keluarga Kristen Koptik, digambarkan mengagumi Al-Qur'an, karena ayat-ayatnya yang dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengutarakan perasaan hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.

Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal Indonesia , anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu disiksa "ayahnya", dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara, karena tuduhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara Jerman. Pendekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebaskan Fahri.

Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka. Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di bawah tekanan Bahadur, "ayah"nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah kandungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi seorang pelacur. Sementara itu, Maria sedang sakit, karena tekanan batin yang dideritanya karena Fahri telah menemukan "sungai Nil"-nya, dan dia ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria berhasil dihadirkan ke pengadilan. Kedatangannya menolong Fahri, karena ia menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di rumah Nurul, demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.

Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya. Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia terbaring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia "membagi cinta" dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas restunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan pengorbanan Aisha. Madamme Girgis memeluk erat Aisha, ketika wanita keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit, karena tidak bisa menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras "menjaga hati". Sementara Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit. "Ajarilah aku shalat", ucap Maria kepada Fahri, "karena aku ingin shalat bersama kalian". Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.


3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir - Selayang Pandang

Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak awal sejarah Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul Petrus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil Markus [3]. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu Kekristenan berkembang pesat di "Negeri Firaun" itu.

Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja Ortodoks Syria, yang sejak sebelum zaman Islam sudah menggunakan bahasa Arab, terbukti dari temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria (Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai memakai bahasa Arab, berdampingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam aksara Yunani.

Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks Koptik, masih dilestarikan tata-cara ibadah dalam penghayatan budaya Kristen mula-mula. Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab'ush shalawat) [4], Shaum al-Kabir (Puasa Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari [5], membaca Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil-yang paralel dengan Tilawat al-Qur'an, dan masih banyak lagi. Anda bisa menyaksikan seorang pemuda yang komat-kamit membaca Kitab di tangannya sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur'an, tetapi juga pemuda-pemuda Koptik dengan tatto Salib di tangan [6] sedang membaca kitab Agabea. Itulah Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka alpakan, juga ketika mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke kampus.

Informasi terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Idiom-idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak jarang pula sama atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang Kristen biasanya diawali ungkapan: Intiqala ila Amjadis samawat (Telah berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Rajiun (Sesungguhnya semua karena Allah dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi, misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.


4. Resensi atas Novel dan Film "Ayat-ayat Cinta"

Kalau tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang kadang-kadang kurang tepat disampaikan dalam film ini:

4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya

Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme Nafed (Marini), mamanya Maria, kala mengucapkan kata: "bisyur'ah" (cepat!), tampak kurang ekspresif. Alangkah lebih " Egypt " nuansanya, bila ia berkata dengan penekanan: "Yala, yala, bisyur'ah, Ya Maria!", misalnya. Begitu juga, sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya terlalu calm dan "melankolis" . Ketika ia mengucapkan "Afwan" (terima kasih kembali), menjawab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga yang dikirim Maria melalui tariakan keranjang kecil dari jendela kamarnya: "Musyakirin awiala ashir Manggo" (Terima kasih banyak atas juice mangga) [7]. Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: "Afwan Ya Habibi!"

Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya: Qamus 'Arabi?, diucapkan dalam dialek terlalu " Saudi Arabia ": Qomus Arabi? Saya kira ini salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal Indonesia, karena ketika belajar bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih "fushah" (klasik). Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak mengucapkan: Subhro, Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat, dan sebagainya.Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran: "Khalash! Khalash!" (sudah, sudah!), lebih "Mesir" lagi kalau diucapkan: "Khalash, khalash ba'ah!"

Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan kara "La, la, la" (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan jari telunjuk bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan "ahlan", biasanya diucapkan berkali-kali: "Ahlan, ahlan, ahlan..." Yang lebih mengganjal lagi, dalam salah satu percakapan, seorang tokoh mengucapkan dialek Mesir bercampur dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya sangat mencintaimu) , mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk klasiknya: Ana uhibuka, Ana uhibuki.

Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa secara utuh mengikuti dan membayangkan "suasana Mesir". Mulai rumah-rumah warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan mashrabiya-nya [8], jalan-jalan kota lama Cairo yang macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan warung-warung Asher (juice) segarnya. Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil ditonjolkan dengan baik, sehingga ber-"suasana Indonesia dan India", ketimbang ber-"suasana Mesir", dan negara-negara Arab di Timur Tengah pada umumnya.

4.2. Tradisi Kristen Koptik

Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur'an karena ayat-ayatnya di-"tilawat" - kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh berbeda.

Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat kedua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam.Bedanya, dalam Islam diawali dengan rumusan Basmalah: Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan dalam Kristen dengan membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada Fahri ketika ia terbaring sakit: "Ajarilah aku shalat!", mestinya lebih baik diperjelas: "Ajarilah aku shalat secara Islam!"

Mengapa? Sebab kata "shalat" saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.

Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal waktu-waktu shalat yang tujuh kali sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan "shalat jam ketiga" (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus, Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu Lail (tengah-malam) . Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.

Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai dalam bentuk Aram tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan Islam (Subuh, Dhuhr, Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar dengan salat sunnah Dhuha dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk waktu-waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam) sebagai berikut:

1. "Salat jam pertama" (Shalat as Saat al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari antara orang mati (Markus16:2).
2. "Salat jam ketiga" (Shalat as-Sa'at ats-Tsalitsah) , kira-kira jam 9 pagi, yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Markus 15:25; Kisah 2:15).
3. "Salat jam keenam" (Shalat as-Sa'at as-Sadi-sah) , kira-kira jam 12 siang, yaitu waktu penyaliban Kristus (Markus 15:33, Kisah 3:30).
4. "Salat jam kesembilan" (Shalat as-Saat at Tasiah), kira-kira jam 3 petang, untuk mengenang kematian Kristus (Markus 15:33,38; Kisah 3:1).
5. "Salat Terbenamnya Matahari" (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan jasad Kristus (Markus15:42).
6. "Salat waktu tidur" (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh Kristus; dan
7. "Salat Tengah Malam" (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah jam berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya (Wahyu 3:3)[9].

Salat Tujuh waktu (As-Sab'u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. Mengapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. "Kanonisasi (waktu-waktu) salat" (Shalat al-Fardhiyah) , sudah mulai dilakukan dalam sebuah dokumen gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta'alim ar-Rusul yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M. [10]


5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa

Seperti komentar banyak tokoh dalam novel "Ayat-ayat Cinta", memang hasil karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa, melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-pesan keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural, sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang selama ini sering di-stigmakan oleh orang Barat.

Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela Islam. Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi terkadang "kelewat batas". Misalnya, dalam Bab 33: "Nyanyian dari Surga" (tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika terbaring sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rahmat), Bunda Kristus itu, menampakkan diri begitu anggun dan luar biasa. "Dia (Allah) mendengar haru biru tangismu", kata Bunda Maria, "Apa maumu?". "Aku ingin masuk surga. Bolehkah?", tanya Maria sambil menangis.

"Boleh", jawab Bunda Maria. "Memang surga diperuntukkan untuk semua hamba-Nya. Tapi kau harus tahu kuncinya". "Apa kuncinya?", tanya Maria. "Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya? ", tegas Bunda Maria. "Aku tidak mengikuti ajarannya", kata Maria. "Itu salahmu!", kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan bahwa jalan ke surga itu harus lewat Islam.

"Maria, dengarlah baik-baik!", kata Bunda Kristus kepadanya. "Nabi Muhammad sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, "Barangsiapa berwudhu dengan baik lalu mengucapkan: Asyhadu an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia suka." Maria akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan melaksanakan shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah "ending" novel dakwah ini.


6. Catatan Reflektif

Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja. Setiap orang bebas untuk menyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa surga itu hanya "hak orang-orang Muslim". Kalau anda tertarik dengan tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi pernahkah anda berpikir, apakah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas juga mengutarakan keyakinannya? Seperti keyakinan bahwa Bunda Maria, tokoh paling suci dalam Kekristenan setelah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa jalan ke surga harus melalui Muhammad.

Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yohanes 14:6), meminjam "lisan Nabi Muhammad" untuk mengajar keyakinan itu? Moga-moga anda membolehkannya, seperti kami tidak mendemo ketika "Ayat-ayat Cinta" meminjam "mulut suci Bunda Maria" untuk dakwah agama Islam.

Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah? Sebaliknya, mengapa harus mengelu-elukan "Injil Yudas", dan "The Da Vinci Code", tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain yang tidak menyetujuinya? Katakanlah, "berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya" karena publikasi novel dan film itu?"

Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki "lbunda Dunia" ini. Misalnya, tenda-tenda Maidah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan gratis yang dibuka di jaan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks Koptik sebagai simbol persatuan nasianal (Wihdat al- Wathani).

Begitu juga, kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara Idul Milad ( Natal ) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling mengucapkan selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen, juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afganistan, Pakistan, dan Indonesia akhir-akhir ini, yang terkadang "lebih Arab ketimbang negara-negara Arab sendiri" [11].

Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran film "The Fitna", saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda menyambut film "ayat-ayat Cinta", izinkanlah saya mengucapkan: Mabruk, (Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan gembira bila anda bergembira.

*) Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo, Mesir.


Lampiran dan Catatan Kaki :


7. Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta Hal. 400 - HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Yang kuhafal, adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Quran. Dengan mengharu biru aku membacanya penuh penghayatan.

"Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat sembilan puluh sembilan aku berhenti karenaa Babur Rahmah terbuka perlahan. Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan berkata, "Aku Maryam". Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci yang kau baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru tangismu. Apa maumu? Aku ingin masuk surga. Bolehkah? "Boleh". Surga memang diperuntukkan bagi semua hambaNya: Tapi kau harus tahu kuncinya?' Apa itu kuncinya?'

Nabi pilihan Muhammad Saw. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya? ' Aku tidak mengikuti ajarannya.' Itulah salahmu.

'Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk penuh ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk surga. Tapi karena kau sudah menjaga jarak dengan Muhammad Saw, maka aku tidak diperkenankan untuk memberitahukan padamu.

Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung menubruknya dan bersimpuh di kakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon agar diberitahu kunci surga itu. Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah aku kunci itu! Aku tidak mau pergi selama-lamanya. Aku terus menangis sambil menyebut-nyebut nama Allah.

______________________________________________


[1] Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta: Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Edisi Revisi ( Jakarta : Basmala dan Harian Republika.2006) .
[2] Nama Girgis (arabisasi dari nama George, seorang santo atau al-qidis, yang sangat populer di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari Petrus) dan nama-nama dalam bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang Kristen Arab bisa juga memakai nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam. Biasanya, nama-nama Kristen Arab misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus), Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup mudah dibedakan dengan nama-nama Arab Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud, Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi nama-nama seperti Abdullah (Hamba Allah), Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang Kristen maupun Islam.
[3] Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I ( Cairo : Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and Christian? Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing House, 1995), him. 126.
[4] 4Lihat panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks Koptik: A/-Ajabiyya: As-Sab'u Sha/awot An-Nahtriyyah wa Lailiyyat ( Cairo : Maktabah al-Mahabbah, 2001).
[5] 5AI-Qush Yoanis Kamal, Tartib UshbO' A/-A/om (Oar al-Jilli ath-Thaba'ah, 2001).
[6] Munculnya tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa penganiayaan. Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir pada zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan Tahun Kesyahidan (Anno Martyri), yang tidak termasuk tahun syamsiah (matahari) ataupun qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun kawakibiyah (tahun bintang).
[7] Kata "musyakirin awi ala ..." (Terima kasih banyak atas...) adalah dialek khas Mesir, kata "awi" asalnya dari: "qawwi" (besar), dalam bahasa Arab klasik: "Syukran 'ala... " (terima kasih atas...), atau "Alfu syukran 'ala ..." (beribu terima kasih atas...)
[8] Mashrabia adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran halus, biasanya digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk mengintip keluar tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam.
[9] Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik ritus Timur. melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity (Nostre Dome. Indiana : University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikialah catatan Aziz S. Atiya mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja: Orthodoks Koptik: "These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce, Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer..." (hlm. 128).Mengenai Gereja Orthodoks Syria , "...keep usual hours from Matins to Compline, with they describe as the 'protection prayer' (Suttara) before retiring" (hlm. 124). Sedangkan Gereja Maronit di Lebanon: "Seven in number., they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours, Verpers and Compline" (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu ini dalam bahasa Arab. lihat: Mar Ignatius Afram al-Awwal Borshaum (ed.), Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi ash-Shalat al-Fardhiyyah ( Aleppo . Suriah: Dar al-Raha Ii an-Nasyr. 1990).
[10] Marqus Dawud (ed.), Al-Dasquliyyah, ar Ta'alim arĂ¯ Rusul ( Cairo : Maktabah al-Mahabbah, 2003), Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm. 171-172.[11] Lih. Artikel saya: Bambang Noorsena, "Ramadhan di Cairo", di Surabaya Post, 20 Agustus 2004, yang dimuat kembali di www.iscs.id
(Sumber: Acara Forum Fokus di Gedung Kasih Bersaudara - Lt.4, Awal April 2008)

21 January 2008

Pemerintah Dinilai Abai Jamin Kebebasan Beragama

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sabtu, 19 Januari 2008
Penulis: Ninin Prima Damayanti Sandy Indra Pratama


Pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang marak terjadi belakangan ini dikhawatirkan akan mengarah pada konflik horizontal yang lebih besar menjelang pemilihan umum 2009. Pemerintah diminta tegas bersikap sebelum tindakan anarkis yang mengatasnamakan agama meluas.

Managing Director Imparsial Rusdi Marpaung mengatakan, pemerintah harus memiliki solusi penyelesaian yang sensitif dan tepat. Aparat penegak hukum juga harus menindak kelompok-kelompok yang melakukan tindakan anarkis terhadap kelompok lain dengan mengatasnamakan agama. “Kalau tidak tegas, nanti terjadi konflik horisontal yang semakin meluas,” kata Rusjdi dalam jumpa pers di kantor Imparsial, Jumat siang.

Imparsial menggarisbawahi, pada 2007 tindakan anarkis yang mengatasnamakan agama meningkat. Kasus kekerasan terjadi pada Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah, penutupan paksa sejumlah tempat ibadah, dan pelarangan cara-cara ibadah tertentu adalah contoh kasus yang terjadi.

Ia menyarankan kepada pemerintah agar dalamwaktu dekat ini mengeluarkan pernyataan resmi bahwa kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia dijamin oleh undang-undang. Selain tercantum dalam Pasal 18 Konvenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, hak beragama juga tercantum dalam pasal 281 (1) Amandemen Kedua UUD 1945.

Ghufron Mabruri, Koordinator Riset HAM Imparsial menegaskan, aparat
memiliki kewenangan represi dan penggunaan kekuatan untuk mencegah dan menghentikan terjadinya kekerasan kepada warga. “Negara sama saja menjadi pelaku kejahatan kalau membiarkan kekerasan terus terjadi,” katanya.

Sementara itu, puluhan pengunjuk rasa dari Front Pembela Islam (FPI) mendatangi Kejaksaan Agung untuk memprotes keputusan Badan Koordinasi Pengawas Agama dan Kepercayaan (Bakor Pakem) soal Ahmadiyah.

Sekretaris Jenderal FPI DKI Jakarta, Awit Mashudi mengatakan keputusan yang diambil oleh Kejaksaan melalui Bakor Pakem menyesatkan umat. Menurut dia, orang yang paling bertanggungjawab adalah Jaksa Agung Muda bidang Intelijen Wisnu Subroto sebagai Wakil Ketua Bakor Pakem. "Keputusan Bakor Pakem merupakan penipuan aqidah dan penyesatan umat," katanya.

Setelah puas berorasi di pintu gerbang Kejaksaan sekitar satu jam, mereka membubarkan diri. Para pengunjuk rasa sempat memacetkan Jalan Sultan Hassanudin, Jakarta Selatan.


Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/01/19/brk,20080119-115759,id.html


27 December 2007

A merry Christmas to all - including Muslims

National News - December 24, 2007

By Muhammad Nafik
The Jakarta Post, Jakarta


A Merry Christmas for Christians and Muslims. Why Muslims? Because Muslims should join festivities that commemorate the birth of Prophet Isa aka Jesus Christ.

The Koran actually cites not only Jesus' birthday, but also two other important moments in his existence -- his death and the day of his resurrection. This is clearly stated in Sura Maryam (Verse of Mary): 33, "So peace is on me (Jesus) the day I was born, the day that I die and the day that I shall be raised up to life (again)".

If the Koran itself recorded Jesus as such, how come Muslims were prohibited by ulema from wishing Christians a merry Christmas? This goes against the fundamental truth of Islam.

If we are consistent in our faith, recognizing Jesus as a prophet in Islam, we should not hesitate to join his birthday celebrations. Whether our own celebrations are held in a different manner to Christians' is not an issue.

The statement in the Sura Maryam should, therefore, end the controversy of whether Muslims are allowed to give Christians a Christmas greeting.

Debates on this sensitive subject have continued to resurface each year, since the Indonesia Ulema Council issued a fatwa in 1981, banning Muslims from greeting Christians at Christmas.

The council said such behavior had bad implications for Muslims' common faith in Isa. The ulema said the greetings implied Muslims justified the Christian belief that Jesus is God, while Islam recognized him as a prophet.

The claim, which seems to be supported by many (if not most) Muslim clerics, was exaggerated and seems not to make sense given that greetings are a social courtesy. What is not allowed is for Muslims to be engaged in the ritual aspects of Christmas.

In the Koran, Jesus Christ is named Isa Almasih. He is described as a figure with many privileges, who was born without a father -- which Christians similarly believe.

While Jews accused Jesus' mother Maria (Maryam, Mary) of adultery and rejected his presence on earth, Islam considered him one of the Ulul Azmi (five supreme prophets) comprising Muhammad, Abraham (Ibrahim), Moses (Musa), Noah (Nuh) and Isa (Jesus).

This is evidence that Islam recognizes and respects Jesus' nobility, and is the reason why we should celebrate his presence on earth, which served as a torch for the world in times of darkness and hopelessness.

Another substantial religious reason for Muslims to greet Christians during Christmas is the fact that the Koran promotes pluralism between communities of different faiths, ethnicities, cultures and groups.

The spiritual objective of this is for us to know and learn about people from other groups (li ta'arafu), to stop us fighting one another (li takhashamu), considering others infidels (li takafaru) or killing each other (li taqatalu).

In this respect, all religions should be treated as equal, to pave the way for free and fair dialogs in interfaith groups, without any subordination from any single party.

With regard to pluralism in this country, non-Muslims have shown themselves to be more tolerant than Muslims in numerous instances.

For example, when Indonesian Moslems observed Idul Fitri on Oct. 13-14, many Christians sincerely greeted them. These wishes were conveyed by leaders on television, through newspaper advertisements and other media facilities.

Some churches, like the one close to my housing complex in Ciputat on the city outskirts, even erected banners with Idul Fitri greetings.

In prayers held at public events, non-Muslims are never bothered or worried when this session is led by Muslims, but it would be a different story if non-Muslims led the prayers.

In constructing houses of worship, non-Muslims have faced more challenges and resistance than Muslims.

Such intolerance continues to rise amid the silence of moderate Islamic leaders in the world's biggest Muslim population.

To enlighten Indonesia's Muslim community such leaders must raise the issue more frequently at major events.

This Christmas is a good opportunity for Muslim leaders to campaign for pluralism, tolerance and co-existence. At least they can start by doing the same as Christians do when they greet us during post-Ramadhan festivities.

The preaching of pluralism would be more influential and effective if leaders of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah -- the two biggest Muslim organizations in Indonesia -- joined hands with moderate scholars and other charismatic clerics to publicly wish Christians a Merry Christmas.

The writer can be reached at nafik@thejakartapost.com




26 December 2007

Mengharapkan Bumi dan Langit Baru

Oleh: Mgr I Suharyo Pr
Uskup Keuskupan Agung Semarang


Beberapa tahun lalu saya melihat sebuah iklan terpampang di tempat yang amat strategis, di salah satu pintu masuk kota Yogyakarta. Iklan itu memuat gambar mulut orang yang terisi—mungkin lebih tepat dijejali—berbagai macam buah.

Mulut itu begitu penuh sampai kelihatan menganga amat lebar, hampir sobek. Saya bertanya dalam hati, masihkah itu boleh disebut mulut? Iklan yang terpampang selama sekitar tiga tahun itu rupanya ingin mengatakan kepada orang-orang yang melihat, betapa enaknya produk makanan yang ditawarkan itu. Waktu saya melihatnya, dalam hati saya bertanya, bukankah iklan ini mencerminkan salah satu watak zaman, serakah?

Keserakahan inilah yang antara lain membuat Indonesia kehilangan julukan zamrud khatulistiwa, lalu menyandang sebutan baru sebagai negara penghancur hutan tercepat (Tempo, 41/XXXVI/3-9 Desember 2007 hal 62). Keserakahan ini pula yang kiranya membuat Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim di Bali tidak mudah menghasilkan keputusan bersama. Keserakahan ini pula yang menempatkan Indonesia pada urutan ketiga paling rawan terkena dampak pemanasan global (Kompas, 12/12/2007, hal 13). Keserakahan itu tak hanya merusak Bumi, tetapi juga menjadikan manusia penyembah berhala. Menurut perspektif Kristiani, serakah sama dengan menyembah berhala (bdk Ef 5:5).

Langit baru Bumi baru

Natal adalah peringatan kedatangan Yesus ke dunia lebih dari dua milenium lalu (Luk 2:1-8). Kedatangan Yesus juga diharapkan pada kepenuhan waktu, ketika Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28). Namun kedatangan Yesus tidak hanya menyangkut masa lalu dan masa depan. "Hari ini", Ia juga harus dilahirkan di tengah dunia nyata (Luk 2:11). Ketiga makna ini terkait harapan akan masa depan yang damai dan sejahtera. Beginilah Nabi Yesaya menubuatkan kedatangan Yesus, "…seorang anak telah lahir untuk kita… dan namanya disebutkan orang… Raja Damai… dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan… karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran" (9:5-6).

Zaman damai sejahtera itu digambarkan sebagai suatu harmoni alam semesta sebagaimana dinubuatkan oleh nabi yang sama, "serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing… anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya… tidak ada yang akan berbuat jahat atau berlaku busuk… sebab seluruh Bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan" (Yes 11:6-9).

Pada zaman itu Bumi akan menjadi amat subur, "…pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran" (Am 9:13-14).

Rusaknya relasi antara Allah dan manusia serta antara manusia (bdk Kej 11) akan diatasi. Demikian juga alam yang hancur karena kejahatan manusia (Kej 6-7) akan dipulihkan. Akan terwujudlah langit baru dan Bumi baru (bdk Why 21:1-8). Nyatakah harapan itu?

Hiduplah dengan bijaksana

Ajakan untuk hidup bijaksana itu adalah bagian dari ajakan yang disampaikan dalam Pesan Natal bersama oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang berjudul "Hiduplah dengan Bijaksana, Adil dan Beribadah". Agar dapat hidup bijaksana, umat Kristiani diimbau supaya tekun mendengarkan firman Allah agar kebijaksanaan Ilahi meresapi pikiran dan hati.

Dalam konteks Natal dan situasi aktual zaman ini, hati dan pikiran yang diresapi kebijaksanaan Ilahi akan menggerakkan orang untuk—baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama—ikut membangun langit baru dan Bumi baru sehingga harapan menjadi kenyataan.

Di lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah, seorang pemimpin komunitas iman mengembangkan Gerakan Masyarakat Cinta Air dalam rangka konsientisasi dan edukasi masyarakat akar rumput. Di Bantul, DI Yogyakarta, ada orang lain lagi yang selama 25 tahun menghutankan sekitar 400 hektar bukit kapur kritis serta membentuk sebanyak dua belas kelompok tani pencinta lingkungan (Kompas, 16/12/2007).

Pada tingkat global ada berita gembira, Peta Jalan Bali disepakati para peserta Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim, termasuk AS.

Dalam perspektif Kristiani, itu semua adalah wujud kecil atau awal langit dan Bumi baru. Prakarsa seperti inilah yang antara lain diamanatkan khususnya kepada umat Kristiani yang merayakan Natal. Kalau demikian, perayaan Natal menjadi ibadah sejati dan bermakna, bukan sekadar ibadah basa-basi.

Selamat Natal 2007 dan Selamat Tahun Baru 2008.


Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/24/utama/4088720.htm


Natal dan Solidaritas Ekologis

Oleh: Aloys Budi Purnomo
Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Semarang


Kelahiran Yesus ke dunia tidak hanya bermakna ritual-spiritual, tetapi juga ekologal. Artinya, ada makna ekologis yang cukup signifikan di balik peristiwa Natal.

Secara tersirat, itulah makna kidung Natal kepada gembala di padang rumput, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di Bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Lukas 2:14).

Maka, perayaan Natal harus ditempatkan dalam kesadaran membangun solidaritas ekologis. Saat ini Bumi telah kehilangan damai sejahtera akibat aneka bahaya ekologis yang mengancam dan menghancurkan semesta.

Keprihatinan ekologis

Dalam perspektif iman dan teologis, kehadiran Yesus ke dunia tidak hanya untuk menebus dan menyelamatkan manusia, tetapi juga alam semesta dan isinya. Oleh karena itu, perwujudan iman terkait Natal harus menyentuh keprihatinan ekologis.

Berbagai keprihatinan ekologis terjadi dan itu membahayakan kelestarian Bumi dan manusia. Keprihatinan yang sudah mengglobal adalah terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global akibat berbagai jenis emisi gas yang merusak lapisan ozon.

Kecuali itu, Bumi dan manusia dihadapkan petaka akibat perusakan tanah subur yang disulap menjadi padang gurun. Sumber-sumber daya alam seperti hutan tropis dirusak dan dihancurkan oleh egoisme pembalak liar hutan. Akibatnya, udara, air, dan tanah mengalami pencemaran.

Semua itu merupakan keprihatinan ekologis yang kian mencekam manusia dan mengancam kelestarian alam semesta. Faktor-faktor ekologis yang merupakan modal ekologis, seperti tanah, air, dan udara, kian tercemar polusi. Alih-alih dilestarikan, modal ekologis justru dikuras habis-habisan sehingga mengancam generasi masa depan.

Proses produksi kerap tidak mengindahkan semesta dan manusia. Kian tinggi produksi ekonomi, kian banyak limbah industri, pengotoran, pencemaran udara, bahkan peracunan tanah dan air karena bekas bahan kimia, baik industri maupun pertanian.

Merajut solidaritas

Natal merupakan momen buat merajut solidaritas antara umat manusia dan alam semesta. Sebagaimana teologi Natal selalu terkait teologi solidaritas, Putra Allah berkenan menjadi manusia untuk menyapa manusia dan menyelamatkannya. Demikian pula penghayatan Natal harus menjadi kesempatan untuk membangun solidaritas.

Benar, perayaan Natal selalu diimbangi aksi sosial Natal, yakni perhatian kepada wong cilik, lemah, miskin, dan tersingkir-tertindas-tergencet-terabaikan. Namun, kiranya kita perlu menjawab keprihatinan ekologis dengan menjadikan Natal sebagai kesempatan membangun aksi ekologis.

Menyambut perayaan Natal tahun ini, umat Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas, Semarang, melakukan aksi Natal yang tidak hanya bersifat sosial (pembagian sembako), tetapi juga bersifat ekologis. Menyadari bahwa daerah ini adalah daerah panas sekaligus rawan banjir, kami mencoba menata lingkungan sekitar.

Secara sederhana, kami melakukan program penanaman seribu pohon dan bunga. Harapannya, halaman parkir dan sekitar gereja yang panas menjadi teduh dan sejuk. Tanaman-tanaman juga berfungsi untuk menyerap dan menahan air agar tidak terjadi banjir. Bersama masyarakat warga, kami membenahi selokan yang mampat akibat lumpur dan sampah liar.

Dewasa ini banyak daerah selalu terancam banjir. Karena terancam banjir, tidak sedikit orang secara periodik menaikkan fondasi rumah untuk mengatasi banjir. Namun, itu hanya berlaku untuk mereka yang kaya dan berduit. Bagi banyak orang miskin, rumah mereka tetap tenggelam pada saat banjir. Jika hujan tiba, tak sedikit orang harus "menguras ruang tamu" akibat banjir.

Di sinilah tantangan merajut solidaritas kian jelas. Solidaritas terhadap yang tidak mampu menaikkan fondasi rumah. Solidaritas bagi mereka yang miskin yang kerap terperangkap kemiskinan yang bersifat ekologis.

Dalam hal ini, perlu dikembangkan etika pembatasan diri berlandaskan solidaritas dengan kaum miskin yang tidak bisa hidup layak. Perlulah mengembangkan pembangunan yang manusiawi dan solider dengan tetangga.
Sudah saatnya umat Kristiani menyambut dan mengenang kelahiran Yesus dengan mengedepankan pola solidaritas ekologis.

Selamat Natal!

Natal dan Kedamaian Lingkungan

Oleh Mgr AM Sutrisnaatmaka MSF
Uskup Palangkaraya, Kalimantan Tengah

Rasanya kurang lengkap jika merayakan Natal tanpa hiasan pohon natal, palungan dalam goa, dan lampu-lampu. Dalam perayaan Natal di mana pun, pernik-pernik itu tak pernah absen.

Pertanyaannya, apakah perayaan Natal bisa juga mengajak kita untuk berefleksi tentang makna iman yang menyentuh kedamaian lingkungan?

Dua ciri khas

Pohon natal serta palungan dan kandang merupakan dua ciri khas penanda perayaan kelahiran Yesus. Tradisi pohon natal konon dihubungkan dengan "Sandiwara Firdaus" yang sejak Abad Pertengahan dipentaskan di muka pintu gereja. Sejenis cemara dengan pelbagai hiasan itu layak ditampilkan karena pada musim dingin tetap hijau, menjadi simbol kehidupan; sementara pohon-pohon lain gugur daunnya, seirama dengan musim yang sedang berlangsung.

Palungan di kandang Betlehem merupakan ungkapan devosional, didasarkan Injil Lukas 2:6-20. Santo Fransiskus Asisi, pembela kaum miskin, pendendang "Kidung Matahari", amat menaruh perhatian pada satwa dan tetumbuhan. Dalam tradisi sesudahnya muncul doa, Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.

Paus Honorius III tahun 1223 memberikan izin kepada Fransiskus untuk menggambarkan misteri penjelmaan dengan menggunakan palungan, patung bayi Yesus, Maria, dan Yusuf, dilengkapi malaikat, gembala, domba, dan lainnya. Itulah kelengkapan perayaan peristiwa Natal, kelahiran Yesus dalam sejarah manusia.

Perayaan Natal juga menyentuh kedamaian lingkungan manakala dua ciri secara mendalam disadari maknanya. Sementara di sudut dunia lain terjadi peristiwa kelahiran "seorang bayi dibungkus lampin, terbaring di palungan", dan di surga terdengar nyanyian, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Luk 2:12-14).

Lingkungan rusak

Salah satu masalah besar negara kita adalah merosotnya kualitas lingkungan hidup akibat meningkatnya kerusakan dan pencemaran lingkungan, serta banyaknya bencana. Hal ini ditegaskan dalam laporan "STATUS Lingkungan Hidup Indonesia" yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup. Rusaknya lingkungan menjadi tanda tidak adanya kedamaian manusia dengan lingkungannya.

Perhelatan Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali menegaskan status kerusakan lingkungan di tingkat internasional. Kian disadari, perubahan iklim berdampak menyengsarakan penduduk dunia. Tidak mengherankan, ketika musim hujan datang, banjir dan tanah longsor mengancam; ketika kemarau tiba, kekeringan dan asap merajalela di banyak tempat. Pelbagai usaha dilakukan untuk mencari sebab terjadinya perubahan iklim. Juga dipikirkan cara penanggulangannya meski hasilnya masih perlu ditunggu.

Setelah krisis beruntun, berbagai bencana muncul karena lingkungan rusak dan baru disadari perlunya memperhitungkan keseimbangan lingkungan. Alam dieksploitasi dengan serakah sebagai bahan produksi, tanpa memerhatikan ekosistem. Solusinya, antara lain, dengan green production, produksi ramah lingkungan.
Namun, perusakan lingkungan terus berlangsung. Kasus pembalakan liar, pembabatan dan pembakaran hutan, menjadi pemicu rusaknya "paru-paru" dunia. Penambangan menghasilkan limbah beracun yang mencemari air sungai, dan menimbulkan pelbagai macam penyakit. Bencana alam yang silih berganti: gempa dan tsunami, letusan gunung api, badai atau angin ribut, berdampak besar bagi lingkungan hidup. Air laut pasang pun menunjukkan dampak pemanasan global.

Kedamaian lingkungan

Perayaan Natal merupakan ungkapan sekaligus perwujudan iman akan kasih Allah untuk umat manusia. Namun, jika iman masih direfleksi sebatas hubungan manusia dengan Tuhan, dan tak membawa serta orang beriman untuk melibatkan hidup sehari-hari termasuk di dalamnya alam sekitar dan lingkungan, maka manusia akan terperangkap dalam kesulitan yang kian besar. Memisahkan ungkapan iman dalam perayaan ibadat dan perwujudan nyata untuk sesama dan lingkungan tak lagi merupakan penghayatan dan pengamalan iman yang utuh dan lengkap.

Tepatlah bahwa perayaan Natal disertai bakti sosial, kunjungan ke penjara, panti asuhan, tempat pengungsian, dan lainnya. Itulah perwujudan kasih Allah dalam program kedatangan dan karya Yesus: "... Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin,... memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan orang-orang buta, membebaskan orang tertindas..." (Lukas 4:18-19).

Perlu ditambahkan, dalam konteks zaman sekarang, refleksi iman (teologi) berkembang menjangkau kawasan lingkungan hidup. Jika kedamaian lingkungan terusik dan menimbulkan pemanasan global yang menyengsarakan, maka mata iman selayaknya tertuju kepada pemberitaan kabar baik tentang kedamaian lingkungan dan pembebasan dari kerusakannya. Kita diingatkan pada kisah penciptaan, ketika segala sesuatu baru diciptakan Tuhan: tumbuh-tumbuhan berbiji, pohon-pohon, hewan, manusia, dan "semua itu sungguh amat baik adanya" (Kejadian 1-2).

Menciptakan harmoni kehidupan yang menyentuh semua unsurnya menjadi urusan tiap orang beriman dari semua agama. Kedamaian lingkungan menjadi keprihatinan dan kerinduan semua orang yang berkehendak baik. Perayaan Natal bisa menjadi momen pembangkit kesadaran untuk berusaha memperbaiki lingkungan dari kerusakannya; sekaligus memberi pengharapan bahwa Allah yang penuh kasih tak akan menyia-nyiakan usaha manusia. Natal bisa membarui visi-misi umat beriman untuk mengungkapkan imannya akan Tuhan dengan meningkatkan martabat manusia dan mengusahakan kedamaian lingkungan. Partisipasi dalam penanaman dan pemeliharaan pohon dan usaha-usaha lain untuk memperbaiki lingkungan hidup bisa menjadi penghayatan dan pengamalan iman dalam merayakan Natal kali ini.



Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/24/opini/4095121.htm


24 December 2007

Kembalikan Natalku

Oleh: BS Mardiatmadja
Rohaniwan, Dosen STF Drayarkara

Apa yang istimewa pada Natal sebenarnya? Pohon Natal tidak penting karena di gurun pun kita seharusnya dapat merayakan Natal tanpa sepotong pohon Natal. Salju yang harus tersedia demi nyanyian White Christmas juga tidak mutlak, karena di Argentina atau Madagaskar atau New Zealand natalan pakai salju merusak seluruh konteks setempat yang sedang musim panas.

Gua kandang menjadi hiasan aneh untuk suatu kompleks yang berisi anak-anak kecil, yang belum pernah melihat kandang lembu, selain di Kebun Binatang; padahal Kebun Binatang sama sekali bukan latar belakang tepat untuk menggambarkan susah payahnya Maria dan Yoseph mencari penginapan. Gembala dengan kambingnya memberi gambaran asing bagi anak-anak kota, yang juga ingin menemukan makna Natal sebenarnya.

Sewaktu saya menyarankan mengubah nyanyian Natal dengan nyanyian setempat, ada yang protes: itu sudah menjadi milik umat semesta sehingga tidak perlu diganti. Tentu saja kita harus berterimakasih kepada Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber yang di tahun 1818 menggubahnya. Tetapi kita lihat kata-katanya saja "Stille Nacht, heilige Nacht! Alles schläft, einsam wacht nur das traute, heilige Paar. Holder Knab im lockigen Haar: Schlafe in himmlischer Ruh!" (sebaiknya tak diterjemahkan karena terjemahannya sekarang sudah beraneka macam; hampir semuanya memperhalus maksud semulanya). Kata dan melodi yang melantunkan keheningan. Sementara itu, di luar gedung ada sekelompok polisi/tentara menjaga agar ibadat kita tidak dikacau orang yang tidak suka. Tentu saja kita berterimakasih kepada pihak keamanan, yang secara ekstra, pasti berusaha keras menjaga semua ibadat Natal tahun ini.

Merayakan Kepalsuan?

Tetapi keheningan macam apa yang sebenarnya kita madahkan? Keheningan selama beberapa jam ini-kah? Lalu kita hiruk pikuk lagi? Kalau demikian keheningan semu dan keheningan ritual saja. Lalu kita merayakan apa? Kita merayakan kepalsuan? Dan kepalsuan itu tidak hanya berkaitan dengan ritus Kristiani, melainkan kepalsuan politis juga, yang penuh dengan topeng serta rekayasa sedemikian sehingga kosmetik tebal menutupi kebusukan (=corruptio) tak terperi. Bahkan sidang sebesar Sidang ekologi Bali tidak dapat menghilangkan tippex yang menutupi kejahatan ekologis di banyak sekali kota besar dunia: pertanda jurang besar menganga untuk menerkam miliaran orang di sekitar kita.

Sebenarnya, Dia yang datang itu dan sekarang maunya kita rayakan itu, bermaksud menjembatani segala kesenjangan itu, menutup jurang-jurang komunikasi dan menyambung relasi antara surga dan dunia. Tetapi ritus beberapa jam atau pohon Natal beberapa meter atau rantai hiasan warna warni itu malah menyebabkan kita silau dan tidak dapat melihat kebenaran di dunia ini: ya Sang Kebenaran kita benamkan dalam tumpukan kembang kertas. Kerap kali kita marah kalau ada orang muda atau "mulut lancang" berseru, betapa Gereja atau Gereja-gereja kita atau masyarakat kita telah mengecat kebenaran sehingga tertutup dengan hiasan-hiasan yang manis.

Sewaktu Dia datang, Herodes, raja lelucon itu mencoba menghibur diri (=kita semua) dengan argumen penundaan bakti guna menantikan bukti ilmiah mengenai kehadiran Sang Kebenaran serta berlindung di balik istana analisis: tetapi menolak ikut menyembah Tuhan. Sewaktu Dia datang, para cerdik pandai di Ibukota (=kita semua) sibuk mencari dalam lembaran-lembaran sejarah, membuka file-file masa lampau dan mempresentasikannya secara publik untuk menghindar dari keharusan menghormati Tuhan yang menjadi realita masa kini. Sewaktu Dia mendekat, hanya orang-orang melarat yang tetap di darat untuk sempat menjabat hangat.

Kelak Anak Kecil ini akan datang ke Bait Allah untuk membabat habis orang-orang yang memalsukan kepentingan iman dengan perdagangan di tempat suci dan perdagangan barang suci serta perdagangan dengan alasan suci. Apa yang akan Dia lakukan, seandainya sekarang Dia hadir di Ibukota ini dan melihat, bagaimana kita menjual Dia di gedung mewah dan dengan makanan serba nikmat serta mengenakan pakaian serba "wah"? Apa yang akan Dia lakukan terhadap iklan-iklan untuk menyeret Anak Kecil itu ke gemerlap lampu kita? Puaskah Dia akan dalih, bahwa setelah mengalami ditendang-tendang ke sana kemari, umat kita pantas juga merasakan kebersamaan yang manis? Relakah Dia membiarkan Si Kecil ditenteng-tenteng bersama dengan hadiah-hadiah yang merupakan alat cuci kedekilan moral kita?

Jangan-jangan itu semua karena kita segan mencari di balik Pohon Natal atau Gua Natal tradisional; enggan menyingkap kapas bak salju yang menutupi hati kita; tak rela membuka kosmetik yang mengingatkan kita akan wajah kusut kemanusiaan kita. Padahal Dia kita rayakan justru untuk masuk ke dalam kemanusiaan kita yang kusut. Marilah kita berani mengakui kekusutan kita. Marilah kita kembali pada Natal yang asli. Kembalikan Natal kita!




Merayakan Rahmat

Oleh: Yonky Karman
Rohaniwan, Dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Rahmat menyapa lewat kelahiran Yesus, menubuh dalam bayi di palungan, kemudian bertambah besar dan bijaksana. Verbum caro factum est. Dan firman telah menjadi manusia. Rahmat Allah ada pada Yesus. Kata dan laku-Nya menguatkan yang lemah, membebaskan yang terimpit beban kehidupan, senasib dengan yang tersingkir. Rahmat yang menyelamatkan manusia sudah nyata, dengan konsekuensi moralnya (Tit 2:11-12).

Perayaan Natal seyogianya tidak terjebak dalam paradigma menggereja. Semestinya Yesus di pusat perayaan, bukan perayaan spektakuler atau karisma pengkhotbah. Natal tanpa Yesus kehilangan esensinya, hanya peristiwa kultural, rutinitas tanpa visi, tiada terobosan untuk memperbaiki kerusakan moral, tiada kekuatan untuk meruangkan kebersamaan. Kekitaan terperangkap dalam kekamian. Rahmat dilupakan.


Amnesia kolektif

Rahmat mestinya bagi segenap alam. Namun, kita terpaku pada alam. Kita berupaya menguasai alam dan mengeksploitasinya. Alam menjadi obyek keserakahan sekaligus ketidakpedulian. Pemanfaatannya tidak mendatangkan rasa syukur di hati. Setelah beberapa dekade Indonesia merdeka, wajah kemiskinan sebagian besar rakyat belum berubah.

Dalam Pembukaan UUD 1945 tertuang pengakuan iman, "Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa… rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya". Kemerdekaan adalah rahmat. Namun, kita lebih merayakan kemerdekaan daripada rahmat. Yang besar merasa bebas merusak dan mengintimidasi yang kecil; juga merasa bebas merampas hak hidup yang kecil.

Kemajemukan tidak dirayakan sebagai rahmat. Pemerintah membiarkan kelompok dalam masyarakat mengancam dan merugikan yang lain hanya karena perbedaan keyakinan. Alih-alih hukum ditegakkan untuk melindungi yang lemah, massa dibiarkan menegakkan hukum jalanan. Pemerintah Negara Indonesia Merdeka belum melindungi segenap bangsa sebagaimana amanat konstitusi.

Melalui perjuangan diplomasi yang alot, Indonesia diakui sebagai sebuah negara kepulauan. Namun, banyak pulau dibiarkan takbertuan, Ada yang dijual kepada swasta. Ada daerah wisata dikelola asing, tetapi di situ rupiah tidak laku. Ada daerah pariwisata yang hanya dapat dimasuki wisatawan asing. Pemerintahan belum melindungi seluruh tumpah darah Indonesia, sebagai amanat konstitusi.

Kualitas sumber daya manusia Indonesia menurun. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia yang meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Indonesia menempati peringkat ketujuh di Asia Tenggara, sedangkan Vietnam yang baru membangun belakangan kini di peringkat kelima. Pemerintah belum memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat konstitusi.

Rahmat Allah mestinya mendidik kita untuk hidup dengan bijaksana, adil, dan beribadah. Rahmat tidak hanya memampukan kita berbuat baik, tetapi membuat kita harus berbuat baik sehingga kita dikenal sebagai umat yang rajin berbuat baik. Hingga wafat-Nya, Yesus dengan setia menghadirkan agama di ruang publik, membumikan kemanusiaan, melayani, dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Natal merayakan rahmat. Konsekuensinya, kita bertanggung jawab mengurangi penderitaan sesama, mengangkat harkat hidup mereka yang dipinggirkan ketidakadilan, berbagi nikmat dengan sesama yang kurang beruntung, memberi asa kepada yang kehilangan harapan. Seharusnya kita beramai-ramai membangun rumah kesalehan sosial daripada mempersoalkan pembangunan dan bangunan rumah ibadah.

Dalam merayakan rahmat, kita tak lagi mempersoalkan mengapa Tuhan tidak menciptakan dunia yang lebih baik dari yang ini. Yang lebih hakiki adalah bagaimana hidup di dunia terbaik dari yang mungkin ada. Dunia harus menjadi sedikit lebih baik lewat kehadiran dan karya kita. Yesus tidak meminta umat diangkat dari dunia, tetapi mendoakan mereka agar dilindungi dari yang jahat dan dikuduskan dalam kebenaran.

Solidaritas kebangsaan

Dalam peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional di Medan (19/12), Presiden menegaskan agar kesetiakawanan sosial tidak sekadar wacana. Nilai luhur bangsa itu harus diwujudkan dalam perilaku sosial guna menciptakan Indonesia yang aman, damai, adil, dan demokratis.

Sejak tsunami, bencana demi bencana melanda Indonesia. Di negeri bencana, alam meradang. Ada bencana murni karena alam. Namun, yang memprihatinkan adalah bencana akibat kelalaian manusia dan pemerintah. Ancaman pemanasan global menimbulkan banjir, badai, angin puting beliung, dan cuaca ekstrem. Banjir pasang laut menjebol tanggul, merusak tambak, dan merendam kawasan nelayan.

Karena kemampuan mengatasi dampak perubahan iklim amat minim, negara miskin lebih menjadi korban fenomena perubahan iklim dengan kerugian ekonomi miliaran dollar. Sembilan dari sepuluh bencana alam terbesar akibat iklim tahun 2007 terjadi di negara miskin dengan dampak lebih buruk daripada yang terjadi di negara maju.

Asia adalah kawasan paling menderita. Negeri paling berisiko terhadap perubahan iklim selama 2006 adalah Filipina, Korea Utara, dan Indonesia. Di Indonesia terjadi 21 bencana alam. Total korban jiwa 1.297 orang, naik dari tahun sebelumnya. Jika tahun 1987-2006 kerugian Indonesia akibat bencana iklim rata-rata 0,27 persen dari produk domestik bruto nasional (keenam terbesar di dunia), tahun 2006 naik menjadi 0,31 persen.

Sebagai negeri yang ketahanan terhadap bencananya lemah, kesetiakawanan warga ditantang. Yang paling menderita akibat perubahan iklim yang tak menentu adalah petani. Jumlah petani gurem (miskin) kita terus meningkat. Dan, 60 persen rakyat miskin kita adalah petani.

Bencana tidak hanya menghancurkan harta benda, tetapi juga membuat rakyat kecil terperosok dalam kubangan kemiskinan. Mereka kehilangan hak-hak ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Perempuan dan anak-anak lebih menderita lagi. Anak-anak terpaksa putus sekolah, sakit-sakitan hidup di pengungsian, tanpa masa depan. Di depan rahmat Allah, kita semua harus tafakur. Saatnya menguatkan solidaritas kebangsaan melampaui solidaritas keumatan dan kesukuan.


Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/22/opini/4095349.htm


08 September 2007

Murtad

Saya tak akan berpindah agama—dan dengan demikian sebenarnya saya memilih agama saya sekarang. Tapi saya sedih benar mendengar cerita orang yang dilarang memilih agama yang ingin dianutnya. Saya sedih mendengar kisah Revathi Massosai.

Perempuan Malaysia ini, yang sudah menikah dan beranak satu, lahir dari ayah ibu yang beragama Hindu tapi kemudian berpindah jadi Muslim. Dari pasangan ini ia mendapatkan nama Muslim. Tapi ia dibesarkan oleh neneknya, seorang Hindu, dan Revathi memilih mengikuti agama sang nenek. Di Malaysia, ini jadi masalah. Di negeri itu, orang yang berayah Muslim harus jadi seorang Muslim. Dan sebagai Muslimah, Revathi dilarang berpindah agama atau menikah dengan seorang yang tak seiman. Ia dilarang murtad.

Tapi di tahun 2004 Revathi kawin dengan seorang pria Hindu. Pasangan ini mendapatkan seorang anak perempuan.

Januari yang lalu ia datang ke mahkamah pengadilan agar secara resmi ia disebut sebagai seorang Hindu. Bukan saja usahanya gagal; ia malah ditahan para petugas. Ia dimasukkan ke ”pusat pemulihan akidah”. Dia ditahan sampai enam bulan. Tujuan para pejabat syariah Islam ialah untuk menjaganya agar ia tetap berada ”di jalan yang benar”—tentu saja ”jalan yang benar” menurut para pemegang otoritas iman di Malaysia.

Selama enam bulan dikungkung itu, ia harus mengenakan jilbab, menegakkan salat, dan lain-lain. Yang kemudian diceritakannya kepada dunia ialah bahwa juga kepadanya disajikan daging sapi—sesuatu yang bagi orang Hindu merupakan pelanggaran.

Pengakuan itu agaknya menimbulkan suara marah dari kalangan Hindu di Malaysia, dan para advokat pembela penguasa syariah di Negara Bagian Malaka itu pun buru-buru menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Revathi tak benar. Mereka yakin, demikian dikutip BBC, bahwa perempuan itu masih bisa dibujuk untuk tetap tak meninggalkan Islam.

Revathi membantah.

Saya tak tahu, apa yang akan didapat para penguasa syariah Islam di Malaka itu sebenarnya: seorang Muslimah yang selamat rohnya dari api neraka, atau jumlah penganut Islam yang tak berkurang, atau seorang yang hanya pura-pura saja beriman kepada Allah tapi hatinya menderita dan tak ikhlas.

Saya tak tahu bagaimana orang-orang yang berkuasa di peradilan syariah itu menafsirkan kearifan terkenal Quran, bahwa ”tak ada paksaan dalam agama”.

Saya juga tak tahu pasti adakah segala usaha mencegah seorang dewasa memilih agamanya sendiri itu merupakan bagian dari politik waswas yang merundung Malaysia—yang menyebabkan soal identitas ”Islam” dipertautkan tetap dengan identitas ”Melayu”, hingga agama bukan lagi diyakini karena kesadaran, melainkan dipegang karena faktor genetik. Saya orang Indonesia, yang dengan agak bangga bisa mengatakan, di negeri ini keislaman tak secara otomatis dikaitkan dengan ras. Iman bukanlah sesuatu yang otomatis. Agama adalah akal, kata Nabi. Akal mengimplikasikan kemerdekaan berpikir dan memilih.

Memang harus saya katakan, saya seorang Muslim karena orang tua saya. Tapi saya sebenarnya bebas untuk tak mengikuti garis itu—sebagaimana orang-orang Arab dulu bebas untuk tak mengikuti kepercayaan nenek moyang mereka dan memutuskan untuk mengikuti Rasul Tuhan, dengan risiko dimusuhi keluarga sendiri dan masyarakat sekitarnya.

Memang harus saya katakan, saya memilih tetap dalam agama saya sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus. Saya tak berpindah ke agama lain karena saya tahu dalam agama saya ada kebaikan seperti dalam agama lain, dan dalam agama lain ada keburukan yang ada dalam agama saya. Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas, tapi juga pasase yang paling mulia dan memberikan harapan. Agama menyumbangkan kepada kehidupan manusia secercah kesadaran, betapapun mustahilnya keadilan akan datang, nilai itu—dan segala sifat Allah—tetap memberi inspirasi. Agaknya itulah yang berada dalam inti iman.

Maka pada akhirnya yang penting bukanlah apa agama yang saya pilih dan Revathi pilih, melainkan bagaimana seseorang tetap berada dalam inti iman itu—bagaimana ia hidup dan bertindak.

Dalam inti iman, Tuhan tak dipersoalkan lagi. Bahkan seorang murtad tak bisa menggugat—sebagaimana tokoh Lazaro yang murtad tak bisa untuk tak merasa dekat dengan Don Manuel, pastor di kota kecil Spanyol dalam novel Migel de Unamuno, Saint Manuel Bueno, Sang Martir.

Saya teringat akan tokoh novel itu, sebab Don Manuel adalah seorang penolong, penyabar dan—menurut sang pencerita—suka mendahulukan ”mereka yang paling malang, dan terutama mereka yang membangkang”. Tapi ia juga padri dengan mata sedih.

Pandangannya meredup ketika ia mengatakan kepada seorang anak bahwa orang harus percaya kepada Neraka.

Bahkan Lazaro yang meninggalkan iman Kristennya menghormatinya dan jadi pembantunya. Berdua mereka merawat yang sakit, menemani yang kesepian, memberi makan yang lapar, menghibur yang berduka.

Pastor itu tak meminta Lazaro tetap jadi seorang Kristen. Ia hanya minta agar pemuda itu ”berpura-pura percaya”, meskipun tetap tak beriman, sekadar agar tak membuat heboh penduduk kota kecil itu. Don Manuel tak mendesakkan kebenaran, sebab kebenaran, seperti pernah dikatakannya kepada Lazaro, ”mungkin sesuatu yang begitu tak tertanggungkan, begitu mengerikan, begitu mematikan, hingga orang-orang biasa tak dapat hidup dengan itu”.

Ia sendiri mungkin tak percaya akan neraka; ia bersedih bila Tuhan membalas dendam. Tapi ia tak hendak meninggalkan agamanya, sebagaimana ia membiarkan Lazaro murtad. Pada saat yang sama, seluruh laku hidupnya menunjukkan bahwa harapan bisa terjadi—harapan sebagai bayang-bayang Tuhan yang hadir dalam tiap perbuatan baik dan ikhlas bagi mereka yang luka dan diabaikan.

Oleh: Goenawan Mohamad
(Majalah Tempo Edisi. 22/XXXIIIIII/23 - 29 Juli 2007)